Kisah Rasulullah Bersembunyi Di Gua Tsur
Diceritakan dalam Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad Volume 1 susunan Moenawar Khalil, banyak tantangan yang dilalui Rasulullah SAW saat berdakwah di Makkah. Kaum kafir Quraisy tak segan mengusir umat Islam dari kota tersebut dengan harapan Rasulullah SAW berubah pikiran.
Dalam buku Kisah Teladan dan Inspiratif 25 Nabi & Rasul oleh Anita Sari dkk, dikisahkan bahwa suatu ketika kondisi di Makkah dirasa sudah tidak aman bagi umat Islam. Rasulullah SAW lalu memerintahkan kaum muslim berhijrah ke Madinah.
Pada suatu malam yang gelap dan sunyi, di tahun 622 Masehi, sebuah peristiwa besar sedang berlangsung di Mekah. Rasulullah SAW, sang pembawa risalah Islam, sedang bersiap untuk meninggalkan kota kelahirannya untuk menghindari pengejaran kaum Quraisy yang ingin membunuh beliau. Bersama dengan sahabat setianya, Abu Bakar As-Siddiq, Rasulullah SAW memulai perjalanan hijrah yang akan mengubah sejarah dunia selamanya.
Sebelum berangkat, Rasulullah SAW meminta Ali bin Abi Talib untuk tidur di tempat tidurnya, agar kaum Quraisy tidak mencurigai bahwa beliau telah pergi. Ali bin Abi Talib setuju dan tidur di tempat tidur Rasulullah SAW, sementara Rasulullah SAW dan Abu Bakar As-Siddiq meninggalkan rumah secara diam-diam.
Mereka berdua tiba di gua Tsur, sebuah gua kecil yang terletak di bukit Tsur, sekitar 5 km dari Mekah, pada malam hari, setelah menempuh perjalanan yang panjang dan melelahkan. Abu Bakar As-Siddiq membersihkan gua dari kotoran dan hewan berbahaya, sementara Rasulullah SAW beristirahat di dalam gua.
Saat Abu Bakar As-Siddiq sedang membersihkan gua, beliau tidak lupa untuk meminta izin kepada Rasulullah SAW untuk memeriksa sekitar gua terlebih dahulu. Dengan hati yang penuh kekhawatiran, Abu Bakar As-Siddiq keluar dari gua dan memeriksa sekitarnya. Beliau melihat bahwa kaum Quraisy sudah mulai mencari Rasulullah SAW dan dirinya, dan mereka tidak jauh dari gua Tsur. Abu Bakar As-Siddiq bahkan melihat Suraqa bin Malik, seorang penjejak yang terkenal, sedang mengikuti jejak mereka.
Namun, saat Abu Bakar As-Siddiq sedang menjaga Rasulullah SAW, beliau tidak sengaja menginjak seekor kalajengking yang bersembunyi di dalam gua. Kalajengking itu menggigit Abu Bakar As-Siddiq, tapi beliau tidak berteriak karena khawatir akan membangun Rasulullah SAW. Abu Bakar As-Siddiq hanya menggigit bibirnya untuk menahan rasa sakit.
Rasulullah SAW terbangun dan melihat Abu Bakar As-Siddiq sedang menggigit bibirnya.
Beliau bertanya, “Apa yang terjadi, Abu Bakar?”
Abu Bakar As-Siddiq menjawab, “Saya digigit kalajengking, ya Rasulullah.”
Rasulullah SAW lalu berdoa kepada Allah dan meluapkan air liurnya ke luka Abu Bakar As-Siddiq, dan luka itu langsung sembuh.
Keesokan harinya, kaum Quraisy datang ke gua Tsur, mencari Rasulullah SAW dan Abu Bakar As-Siddiq. Mereka bahkan sampai di mulut gua, tapi Allah SWT memerintahkan seekor burung dara untuk membuat sarang di depan gua, dan ribuan laba-laba untuk membuat jaring di mulut gua.
Dalam kondisi Gua Tsur yang seperti itu menyebabkan kafir Quraisy yang mengejar Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar mengurungkan niat untuk masuk ke Gua Tsur. Meski jejak kaki sang rasul dan sahabatnya berhenti di depan gua tersebut, mereka beranggapan jika keduanya berada di dalam seharusnya sarang laba-laba hancur dan telur-telur merpati pecah.
Salah seorang kafir Quraisy berkata, “Kita perlu mencoba masuk bersama-sama, coba marilah!”
Seseorang bernama Ummayah bin Khalaf membalas, “Mengapa kamu hendak masuk ke dalamnya? Kalau Muhammad telah masuk, tentu sarang laba-laba itu telah luluh bukan? Ya, kalau di dalam gua itu tidak ada binatang liar dan buas atau ular berbisa. Kalau ada, tentu akan mencelakakan kamu bukan?”
Mendengar itu, kaum kafir Quraisy mengurungkan niat untuk masuk ke Gua Tsur. Abu Bakar lalu mengangkat kepalanya ke atas gua dan berkata, “Oh, jika mereka melihat kakinya ke bawah atau menundukkan kepalanya ke bawah, tentu dengan segera melihat kita ada di sini bukan?”
Rasulullah SAW pun berkata, “Janganlah engkau menyangka bahwa aku ini sendirian bersama engkau, tetapi sesungguhnya Allah selalu bersama kita, selamanya Ia akan melindungi kita. Adapun jika mereka nanti masuk ke dalam gua ini dengan jalan melalui pintu gua itu, nanti kita melepaskan diri melalui ini (Nabi menunjukkan jarinya ke sebelah belakang).”
إِلَّا تَنصُرُوهُ فَقَدۡ نَصَرَهُ ٱللَّهُ إِذۡ أَخۡرَجَهُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ثَانِيَ ٱثۡنَيۡنِ إِذۡ هُمَا فِي ٱلۡغَارِ إِذۡ يَقُولُ لِصَٰحِبِهِۦ لَا تَحۡزَنۡ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَنَاۖ فَأَنزَلَ ٱللَّهُ سَكِينَتَهُۥ عَلَيۡهِ وَأَيَّدَهُۥ بِجُنُودٖ لَّمۡ تَرَوۡهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ٱلسُّفۡلَىٰۗ وَكَلِمَةُ ٱللَّهِ هِيَ ٱلۡعُلۡيَاۗ وَٱللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
“Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekkah) mengeluarkannya (dari Mekkah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kami”. Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan al-Quran menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. al-Taubah, 9:40).
Rasulullah SAW dan Abu Bakar As-Siddiq tetap bersembunyi di gua Tsur selama tiga hari, sampai pengejaran kaum Quraisy mulai mereda. Selama itu, mereka hanya beribadah dan berdoa kepada Allah SWT, meminta perlindungan dan petunjuk. Abu Bakar As-Siddiq selalu menjaga Rasulullah SAW dengan setia, dan Rasulullah SAW selalu memberikan motivasi dan kekuatan kepada Abu Bakar As-Siddiq.
Setelah tiga hari, Rasulullah SAW dan Abu Bakar As-Siddiq meninggalkan gua Tsur dan melanjutkan perjalanan hijrah ke Madinah. Mereka disambut dengan hangat oleh umat Muslim di Madinah, dan Rasulullah SAW memulai babak baru dalam sejarah Islam.
Kisah Rasulullah SAW di Gua Tsur mengajarkan kita tentang kekuatan iman, kesabaran, dan kepercayaan kepada Allah SWT. Rasulullah SAW dan Abu Bakar As-Siddiq tidak pernah kehilangan harapan, bahkan di saat-saat paling sulit sekalipun. Mereka selalu yakin bahwa Allah SWT ada bersama mereka, dan bahwa kemenangan akan menjadi milik mereka.
Kita semua bisa mencontoh sifat Rasulullah SAW dan Abu Bakar As-Siddiq dalam kehidupan sehari-hari. Kita bisa memperkuat iman kita, meningkatkan kesabaran kita, dan mempercayai Allah SWT dalam setiap keadaan. Mari kita jadikan kisah Rasulullah SAW di Gua Tsur sebagai inspirasi kita untuk menjadi lebih baik dan lebih dekat dengan Allah SWT.
Kisah Rasulullah SAW di Gua Tsur adalah sebuah contoh nyata tentang kekuatan iman dan kepercayaan kepada Allah SWT. Mari kita jadikan kisah ini sebagai inspirasi kita untuk menjadi lebih baik dan lebih dekat dengan Allah SWT. Semoga kita semua bisa mencontoh sifat Rasulullah SAW dan Abu Bakar As-Siddiq, dan semoga kita semua bisa mencapai kemenangan dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
===============================
////////////
Informasi Penerimaan Santri Baru T.P. 2025-2026 :
SMAIQ SMAIQ KLIK DISINI
SMPIQ SMPIQ KLIK DISINI
SD IT Tahfidz SDIT Tahfidz KLIK DISINI
SD IT Reguler SDIT Tahfidz KLIK DISINI
KB IT – TK IT SDIT Tahfidz KLIK DISINI
////////////
Al Husna Mayong, mengelola :
KB IT – TK IT – SD IT – SMP IQ – SMA IQ – TPQ – Ponpes Tahfidh Qur’an – Majlis Ta’lim – Al Husna Mabrur – Al Husna Mart – LAZISNA – MADINA.
////////////
Siapkan Infaq terbaikmu Untuk PEMBANGUNAN MASJID BESAR AL HUSNA Ke :
Bank Rakyat Indonesia (BRI)
224001000848561
Bank Negara Indonesia (BNI)
1544613546
A/N: PANITIA PEMBANGUNAN MASJID AL HUSNA
Salurkan juga Infaq Untuk Dakwah MEDIA AL HUSNA Ke :
Bank Rakyat Indonesia (BRI)
Rek. No. 2240-01-006409-53-5
a/n. MEDIA AL HUSNA
) Konfirmasi Transfer: wa.me/6289621050552
////////////
Youtube : New Al Husna Official
Facebook : YP3 Al Husna Mayong Jepara
Email : yp3alhusna@gmail.com
Website : www.alhusnainternational.sch.id
////////////
———————————————————


0 comments