31
Okt

Santri dan Sumpah Pemuda : Semangat Santri Menyatukan Bangsa

Peringatan Hari Snatri dan Sumpah Pemuda selalu menjadi momentum penting bagi seluruh elemen bangsa, termasuk kalangan pesantren. Sejak dulu, pesantren bukan hanya tempat menimba ilmu agama, tetapi juga wadah lahirnya semangat kebangsaan. Melalui nilai keikhlasan dan perjuangan, santri membuktikan bahwa cinta tanah air adalah bagian dari iman, nilai yang sejalan dengan makna Sumpah Pemuda Pesantren hari ini.

Akar Perjuangan Santri dalam Sejarah Kebangsaan

Dalam lintasan sejarah, santri memiliki peran besar dalam membangun kesadaran nasional. Sebelum ikrar Sumpah Pemuda dikumandangkan, para ulama dan santri telah lebih dulu menanamkan semangat persatuan melalui dakwah dan pendidikan.

Salah satu tokoh sentralnya ialah KH. Hasyim Asy’arai, pendiri Nahdlatul Ulama sekaligus pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang. Beliau menegaskan pentingnya cinta tanah air sebagai bagian dari iman (hubbul wathan minal iman). Dua tahun sebelum Sumpah Pemuda, gagasan beliau sudah menembus sekat-sekat kedaerahan dan mengarah pada cita-cita satu bangsa dan satu tujuan.

Selain itu, KH. Wahab Hasnullah, juga dikenal sebagai ulama muda yang aktif dalam pergerakan nasional. Ia menjalin komunikasi dengan para pemuda pergerakan di Surabaya seperti HOS Tjokroaminoto dan Soekarno muda. Melalui organisasi yang ia rintis, Nahdlatul Wathan dan Nahdlatut Tujjar, KH. Wahab menumbuhkan kesadaran ekonomi dan sosial di kalangan santri. Semangatnya sangat dekat dengan roh Sumpah Pemuda: bersatu dalam perbedaan.

Sinergi Nilai Santri dan Semangat Sumpah Pemuda

Hari Santri dan Sumpah Pemuda memiliki semangat yang sejalan: keduanya menekankan persatuan, keikhlasan, dan pengabdian kepada bangsa.

Jika para pemuda 1928 bersatu menyatakan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa, maka para santri sejak dulu telah mempraktikkan semangat itu dalam kehidupan sehari-hari melalui ukhuwah islamiyah dan nasionalisme religius.

Santri adalah wujud dari pemuda ideal dalam konteks keindonesiaan: religius tetapi terbuka, cinta damai tetapi tegas membela kebenaran, dan berakar kuat pada nilai-nilai tradisi sambil menatap masa depan dengan optimisme.

Pesantren sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia memiliki potensi besar untuk terus melahirkan generasi muda yang berkarakter, berakhlak, dan berdaya saing tinggi.

Dengan demikian, momentum peringatan Hari Santri dan Sumpah Pemuda seharusnya menjadi refleksi bersama bagi seluruh komponen bangsa, bahwa kemerdekaan dan persatuan Indonesia lahir dari semangat kolektif para pejuang, termasuk santri dan ulama.

Sudah sepatutnya generasi masa kini meneladani semangat junag dan keikhlasan mereka dengan cara berkontribusi nyata sesuai bidang dan profesi masing-masing.

Santri bukan hanya pewaris tradisi pesantren, tetapi juga pewaris perjuangan bangsa. Dari masa ke masa, mereka menunjukkan komitmen yang tinggi terhadap agama, bangsa, dan negara.

Dalam setiap detak sejarah Indonesia, ada jejak santri yang mengalir dalam denyut perjuangan kemerdekaan, pendidikan, dan pembangunan sosial.

Di era globalisasi yang penuh tantangan, santri dituntut untuk terus memperkuat perannya sebagai agen perubahan sosial, penjaga moral bangsa, dan pembela negara.

Dengan bekal ilmu yang mendalam dan akhlak yang luhur, santri diharapkan mampu menjaga warisan nilai-nilai luhur bangsa, serta mengisi kemerdekaan dengan karya dan pengabdian yang nyata.

Semangat Sumpah Pemuda dan Hari Santri harus menjadi energi moral bagi seluruh generasi muda Indonesia.

Bahwa menjadi santri bukan berarti terkungkung oleh masa lalu, tetapi menjadi bagian dari masa depan yang beradab, berilmu, dan berintegritas. Karena sejatinya, santri adalah pelita bangsa, penjaga nilai, dan penggerak kemajuan negeri.

Pesantren dan Sumpah Pemuda di Era Kini

Kini, semangat Sumpah Pemuda Pesantren terus tumbuh di berbagai lembaga Islam, termasuk di Pesantren Al Husana Internasional Jepara, Jawa Tengah. Para santri tidak hanya belajar Al Qur’an, kitab, tetapi juga mengembangkan wawasan kebangsaan dan kepemimpinan. Melalui kegiatan keorganisasian dan kreativitas, mereka belajar untuk bersatu, berjuang, dan berkontribusi bagi negeri.

Sebagaimana para ulama dahulu memperjuangkan kemerdekaan, santri masa kini pun ditantang menjaga kemerdekaan dengan ilmu, akhlak, dan solidaritas.
Dari pesantren, semangat persatuan itu terus menyala-meneguhkan bahwa santri adalah pewaris nilai Sumpah Pemuda yang sejati.

Santri tidak pernah sekalipun bertentangan dengan nasionalisme. Hal ini dapat kita pahami dari pengakuan kenegaraan di samping keagamaan seseorang. Semua orang dari negara mana saja boleh beragama Islam dan semua orang yang beragama Islam boleh bernegara. Kita lihat contoh sahabat nabi yaitu Salman Al-Farisi, dimana Al-Farisi dimaksudkan untuk menunjukkan kota asal Salman yakni Persia.

Kita santri dan kita cinta Indonesia.

———————-

 

===============================

////////////

Al Husna Mayong, mengelola :

KB IT – TK IT – SD IT – SMP IQ – SMA IQ – TPQ – Ponpes Tahfidh Qur’an – Majlis Ta’lim – Al Husna Mabrur – Al Husna Mart – LAZISNA – MADINA.

////////////

Siapkan Infaq terbaikmu Untuk PEMBANGUNAN MASJID BESAR AL HUSNA Ke :
🏦 Bank Rakyat Indonesia (BRI)
🏧 224001000848561
🏦 Bank Negara Indonesia (BNI)
🏧 1544613546
A/N: PANITIA PEMBANGUNAN MASJID AL HUSNA

Salurkan juga Infaq Untuk Dakwah MEDIA AL HUSNA Ke :
🏦 Bank Rakyat Indonesia (BRI)
🏧 Rek. No. 2240-01-006409-53-5
🏢 a/n. MEDIA AL HUSNA
) Konfirmasi Transfer: wa.me/6289621050552

////////////

Youtube : New Al Husna Official
Facebook : YP3 Al Husna Mayong Jepara
Email : yp3alhusna@gmail.com
Website : www.alhusnainternational.sch.id

////////////

———————————————————